Liberating The Idea

[Review Buku] – Mollo, Pembangunan, dan Perubahan Iklim

- -

O

Judul : “Mollo, Pembangunan, dan Perubahan Iklim”
Penulis Buku : Siti Maemunah
Kata Kunci : Masyarakat Adat, Mollo, Alam, Tubuh Manusia
Peresensi : Rasyid Ridha Saragih*

Pendahuluan

Hampir seluruh masyarakat adat yang ada di pelosok Nusantara memiliki ikatan yang kuat dengan alam dan lingkungan hidupnya. Tak jarang, imaji atas kesempurnaan tubuh dirinya selalu melekat pada alam itu sendiri. Sehingga bilamana alam mengalami kerusakan, maka kelak tubuh diri masyarakat adat itu sendiri kelak akan menuai kerusakan.

Buku yang dibahas kali ini berjudul “Mollo, Pembangunan, dan Perubahan Iklim”, dimana pembahasan buku ini didasarkan pada potret kehidupan masyarakat adat Mollo, Amanuban dan Amanatun yang berada di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Pembahasan berkisar pada sejarah dan keberadaan masyarakat Mollo, konsepsi filosofis-pandangan hidup (worldview) orang Mollo, krisis kehidupan di masyarakat Mollo, dampak perubahan iklim pada kondisi ruang hidup masyarakat Mollo, upaya pemulihan ruang dan subyek hidup masyarakat Mollo, dst.

Riset teks ini didasarkan pada riset model etnografis, dimana periset meneliti dan mengorek informasi dari subyek riset dengan sedalam-dalamnya, hingga pada persoalan tata tutur subyek riset dalam kehidupannya sehari-hari. Riset ini berupaya menampilkan gambaran subyek dan locus riset dengan apa adanya, seolah hidup dan bersuara atas nama dan dirinya sendiri. Keep Reading

Kuburan Massal 1965, Segera Usut!

- -

Semarang, Komunitas Payung – Pada tanggal 17 Maret 2017 di Semarang, terdapat diskusi terfokus membahas perihal kuburan massal tentang kasus 1965. Topik diskusi tersebut dipilih mengingat upaya yang dilakukan oleh kawan-kawan Perkumpulan Masyarakat Semarang untuk Hak Asasi Manusia (PMS-HAM) dalam hal memorialisasi di Plumbon pada 2015 lalu. Memorialisasi tersebut, barangkali adalah memorialisasi pertama terhadap tempat pembunuhan massal terhadap kasus 1965 yang melibatkan penduduk sekitar, mahasiswa, akademisi, dan agamawan. Dengan latar belakang tersebut, diskusi terfokus yang diselenggarakan bertujuan untuk menganalisis “keberhasilan” di Plumbon dan kemungkinanya untuk diterapkan di daerah lain.

Dihadiri oleh para penyintas, akademisi, dan juga para pegiat HAM, diskusi berlangsung dari siang hingga malam hari. Acara dibuka dengan peluncuran buku “Final Report IPT 1965” dengan kata pengatar dari Dianto bachriadi, dan “Dari Beranda Tribunal” yang dihantarkan oleh Abuprijadi Santoso, keduanya adalah buku yang berkaitan dengan Pengadilan Rakyat 1965 di Den Haag, beberapa waktu lalu, yang disertai pula dengan penyerahan secara simbolis. Keep Reading

Rest in Pride: Ibu Patmi

- -

Komunitas Payung, Semarang – Malam Kamis (23/3) di pintu timur dan barat Kantor Gubernur Jawa Tengah terlihat ramai oleh manusia-manusia dengan atribut-atribut yang berbeda. Mereka berbaris teratur, sambil memegang lilin yang menyala. Di barisan depan terpampang spanduk panjang bertuliskan dengan lantang “Rest in Pride, Bu Patmi”.

Begitulah gambaran pertama dari rangkaian aksi bertajuk “Doa Lintas Agama Untuk Ibu Patmi dan Para Pejuang Lingkungan Lestari (Dia Melawan, Dia Yang Berjuang)” yang diadakan Konsolidasi Semarang untuk Kendeng, yang terdiri dari berbagai elemen gerakan masyarakat seperti Pelita Semarang, LBH Semarang, GMPK, GBPK, KPS, DPC PMII Kota Semarang, Elsa Semarang, Hikmahbudhi, Gusdurian Semarang, Rumah Pelangi, FNKSDA, Sebumi, LRC-KJHAM, Journalist Creative, KPI-GAN, KOWE, Gerakan Rakyat Miskin Kota (Germo), Konfederasi Serikat Pekerja Nasional (KSPN), Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), dan elemen masyarakat lainnya. Keep Reading

Agenda Diskusi Rutinan Komunitas Payung: “Cosmopolitanism as Experience: Global Imagined Solidarity in Minorities Struggle”

- -

Kosmopolitanisme kerap kali dianggap sebagai proyek politik ideologi dari lembaga-lembaga liberal. Namun, seperti yang digagas Benedict Anderson, kosmopolitanisme kini bergerak meninggalkan akar Pencerahan-nya. Kosmopolitanisme dikembangkan menuju sebuah pengalaman aktual dengan wajah dan bahasa yang beragam; yang dengan ini, imajinasi kosmopolitanisme dapat menjadi basis dari solidaritas horizontal secara global.

Hal ini misalnya, dapat dilihat dari kerja-kerja organisasi Slum Dwellers International, yang membuktikan bahwa perjuangan minoritas secara global dapat disandarkan pada pada imajinasi kosmopolitan. Membayangkan kemungkinan-kemungkinan di masa depan, dapatkah kosmopolitanisme berkembang dalam tindakan-tindakan komunikatif yang menghubungkan solidaritas dari minoritas di seluruh dunia? Keep Reading

1 2 3 54