Dunia (Sekali Lagi) Milik Kita, Paduan Suara Dialita (2016)

- -

Oleh : Rian Adhivira Prabowo

“malam dijemput suara kecapi/ siang suara aksi/ disini juang dipandu/ membina dunia baru nan jaya!” – Di Kaki-Kaki Tangkuban Perahu

Pernah melihat para kelas menengah menolak ikut solidaritas karena sedang mengamankan posisi sendiri? Pernah dengar mahasiswa yang menolak melihat betapa sengsaranya sang kawan untuk membayar kuliah untuk ikut turun jalan? Pernah tahu akademisi ngehek yang cari aman dengan diam saja melihat penindasan dan menjual diri pada lembaga donor maupun penguasa rezim sementara kemanusiaan tengah dalam teror? Ajaklah mereka semua itu untuk mendengarkan album terbaru dari Paduan Suara Dialita, yang jelas bukan paduan suara biasa, melainkan plus plus.

Dikatakan plus karena sesuai dengan singkatanya, anggotanya adalah Diatas Lima Puluh Tahun. Sedangkan plus yang kedua adalah karena ditulis dan dinyanyikan oleh para tahanan politik 1965. Sebelum lebih jauh, sudah tahu gambaran Rezim Soeharto terhadap perempuan tahanan politik? Silahkan datang atau googling saja gambar dari ukiran monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya, atau bisa juga lewat nobar film Pengkhianatan G30S PKI. Jadi, para ibu-ibu mantan tahanan politik tahun 1965 ini berhadapan langsung, dengan propaganda kebencian rezim dan gambaran Orde Baru tentang “perempuan” yang suka menari-nari telanjang sembari memainkan silet.

album_art_yesno083

Beberapa lagu dalam album ini adalah lagu-lagu revolusi sebelum Soekano dikhianati dan ditikung oleh Orde Baru. Sementara, beberapa lagu lain adalah lagu yang ditulis ketika menjalani masa pembuangan seperti Plantungan. Bekerja sama dengan pemusik muda macam Cholil ERK dan Frau, jadilah album Dialita ini. Karena saya bukan pemusik, maka saya ndak mudeng soal petikan gitar atau pilihan tuts piano, maka hanya akan melihat dari satu aspek saja, yaitu kekuatan lirik yang ditawarkan.Oh ya, Seluruh lagu ini dapat diakses secara gratis melalui laman http://yesnowave.com/yesno083/ .

Album dibuka dengan lagu “Ujian”, langsung disambut dengan lirik menggigit yang menggambarkan situasi penahanan sewenang-wenang sebagai bagian dari ujian, dari kristalisasi:

“Dari balik jeruji besi/ hati ku diuji/ apa aku emas sejati, atau imitasi/ tiap kita menempa diri jadi kader teladan/yang tahan angin tahan hujan tahan musim dan badai/.”

Apa yang tersisa dibalik tembok tinggi dan jeruji besi? Lagu kedua menjawabnya melalui “Salam Harapan”, bahwa apa yang dilalui adalah “bagai gunung karang di tengah lautan/ tetap tegak ditengah lautan”. Masuk lagu ketiga, dan favorit saya, “Di Kaki-Kaki Tangkuban Perahu”, lewat lagu ini, Dialita tidak hanya bercerita tentang pengalaman mereka, tapi juga cerita tentang Kaum Tani dan bagaimana Dialita begitu menghargai mereka. Bahwa “kaum tani tidak akan mati” barangkali juga tentang malam berkesenian dan pagi turun ke jalan, bahwa dunia ini dipandu oleh suara kaum tani “malam dijemput suara kecapi/ siang suara aksi/ disini juang dipandu/ membina dunia baru nan jaya!”. Bisa anda bayangkan kalau lagu tentang aksi kaum tani ini dinyanyikan oleh perkumpulan mbah-mbah lanjut usia dengan penuh semangat revolusi yang berkobar-kobar?

Lagu keempat adalah lagu pada masa revolusi Bung Karno, “Padi Untuk India”, mengenai bantuan Padi dari Indonesia kepada India “ayo kerahkan tenaga kita/ memenuhi janji negara/ Padi untuk saudara India!”. Track ke lima, “Taman Bunga Plantungan” tentang taman bunga di penjara Plantungan, yang sesungguhnya merupakan tempat isolasi penyakit lepra sebelum akhirnya menjadi tempat pembuangan tahanan politik perempuan. Lagu keenam kembali tentang lagu masa revolusi, “Viva Ganefo”, perayaan menyambut pesta olahraga negara-negara New Emerging Forces. Tidak semua lagu dalam album ini melulu perjuangan, adapula lagu ketujuh, yang merupakan melankoli kerinduan ibu kepada ibunya. Saya sendiri mengenal salah satu penulis dari lagu ini, Bu Busono Wiwoho, yang bersama suaminya menjalani masa tahanan dan harus berpisah dengan anak-anaknya, “jadilah putra harapan bangsamu” ujarnya dalam salah satu baitnya. Lagu nomor delapan, “Kupandang Langit”, memiliki lirik yang sejalan dengan lagu pertama, meski dengan intonasi yang lebih haru, “Biarpun badan lagi terkurung/ tetaplah engkau bertarung”.

Lagu sembilan adalah “Dunia Milik Kita”, tentang harkat martabat manusia yang sejati tanpa memandang latar belakang apapun: “Manusia lahir medeka suci rohani luhur jasmani kita milik dunia/ satu saudara/ walau berbeda ragam suku bangsa/ saling cinta/ kasih sayang/ dalam sesama hak atas insani/ tinggikan martabat akhlak manusia/ dunia aman damai abadi”. Akhirnya, album ini ditutup dengan lagu terakhir: “Asia Afria Bersatu”.

Dialita

Lalu seberapa signifikankah album Dialita ini? Lynn Hunt, dalam Inventing Human Rights memberikan contoh, mengenai bagaimana konsep mengenai hak mendapatkan hukuman yang tidak manusiawi mengalami masa sejarah yang panjang. Melalui pengaruh novel, dan berbagai dokumen yang menunjukan “patahan” dari sejarah pada umumnya, hingga akhirnya terkapitulasi dalam satu momen politis tertentu.[1] Saya pikir, begitupula dengan Dialita. Lagu-lagunya maupun mereka yang menyanyikanya juga adalah patahan. Melalui Dunia Milik Kita, Dialita memberikan gambaran yang sepenuhnya berlawanan dengan sejarah murahan propaganda Orde Baru, Dunia Milik Kita adalah kemenangan bagi tiap-tiap perempuan yang pernah disekap selama Orde Baru. Diantara menjamurnya musik-musik tanpa arti, musik untuk musik, Dialita dengan Dunia Milik Kita menunjukan tidak hanya bahwa suara mereka tidak dapat dibungkam, melainkan juga –sebagaimana tertera dalam judulnya- bahwa Dunia, memang seharusnya milik Kita, bukan mereka yang berseragam membawa senjata dan memaksa masuk dalam ranah sipil atau milik para kelas menengah, yang suka sekali mengamankan posisi sendiri lantas kemudian mengeluhkan segala hal. Pada akhirnya, kita harus mengakui, bahwa nenek-nenek Padus Dialita ini, jauh lebih revolusioner dari pada kebanyakan dari kita.

Album Dialita yang keseluruhan nyanyian vokalnya disuarakan oleh para ibu-ibu Lansia -yang merasakan kejamnya hidup di era Orde Baru-, turut diiringi oleh sebagian musisi-musisi muda masa kini seperti Frau, Sisir Tanah, Cholil Mahmud, Nadya Hatta & Prihatmoko Catur, Komunitas Kroncongan Agawe Santosa dan Lintang Radittya. Dan itu terkhusus untuk pengisian bagian komposisi musik saja. Sedangkan jiwa dari album Dialita yang tertancap pada lirik-liriknya, sepenuhnya berada dibawah kendali ibu-ibu Dialita.

Album Dialita yang dirilis pada 17 Agustus 2016 yang lalu ini, barangkali bisa menjadi refleksi bagi kita semua, bahwa dibalik naik turunnya jalan sejarah, apakah kita semua sudah mencicipi kemerdekaan dengan seutuhnya? Silahkan direnungkan, dan barangkali lewat Dialita-lah hal ini bisa direnungkan lebih dalam. Silahkan download albumnya secara gratis via Netlabel YESNOWAVE. []

Sumber Gambar:

YESNOWAVE
Youtube

 

_____________________________________

[1] Lynn Hunt. Inventing Human Rights, A History. W. W. Norton &  Company. New York, London. 2007 Lihat terutama pada chapter 1, 2, dan 3.